Selamat Datang Salam Satu Jiwa AREMA

SALAM SATU JIWA AREMA Together for Glory, Arema Indonesia
English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Salam Satu Jiwa Arema Indonesia

Kamis, 03 Maret 2011

Asal Usul Nama Kota Malang

Kota Malang, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur. Kota ini berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, terletak 90 km sebelah selatan Kota Surabaya, dan wilayahnya dikelilingi oleh Kabupaten Malang. Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur, dan dikenal dengan julukan Kota Pelajar.
Nama kota Malang berasal dari nama Batara Malangkucecwara seperti yang tertulis di dalam Piagam Kedu (tahun 907) dan Piagam Singhasari (tahun 908). Menurut penelitian para ahli seperti Bosch, Krom, Stein Calleneis, nama Batara Malangkucecwara sesungguhnya nama raja setempat yang telah wafat dan dimakamkan di dalam Candi Malang Kucecwara.
Kitab Pararaton yang ditulis pada tahun 1481 atau 250 tahun setelah masa kerajaan Singosari, kitab Pararaton yang sudah tidak menggunakan bahasa Jawa Kuno tapi sudah menggunakan bahasa Jawa Pertengahan ini dijadikan sebagai sumber sejarah nama kota Malang.
Seperti kisah yang disebutkan di dalam kitab Pararaton bahwa segitiga pusat kegiatan Kutaraja pada masa Ken Arok banyak peninggalan berupa Candi Singosari, Candi Kegenengan, Candi Kidal, Candi Jago, Candi Badut, Palandit (kini menjadi Wendit) dan Kebalon (kini menjadi Kebalen) merupakan pusat mandala atau panepen (tempat menyepi) yang juga disebutkan di dalam Negara Kertagama.
Di sekitar Kebalen-Kuto Bedah-Sungai Brantas banyak dijumpai gua buatan manusia yang hingga sekarang masih digunakan untuk tempat menyepi oleh pengikut mistik dan kepercayaan. Bukti lain yang menyebutkan daerah yang dekat dengan daerah ini adalah nama Turyanpada kini menjadi Turen, Lulumbang kini menjadi Lumbangsari, Warigadya kini menjadi Wagir, Karuman kini menjadi Kauman.
Istilah Kebalon hanya dikenal oleh kalangan bangsawan saja dan rakyat pada masa itu hanya tetap menyebut dan mengenal sebagai petilasan Malangkucecwara dengan nama Malang yang kemudian diwariskan hingga sekarang. Malang Kucecwara memiliki arti “Tuhan menghancurkan yang bathil dan menegakkan yang baik”.

Kota Malang di Masa Penjajahan Belanda 
 Kota Malang mulai tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Belanda, terutama ketika mulai dioperasikannya jalur kereta api pada tahun 1879. Berbagai kebutuhan masyarakat pun semakin meningkat, terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.
  • Tahun 1767 Kompeni Hindia Belanda memasuki Kota
  • Tahun 1821 kedudukan Pemerintah Belanda dipusatkan di sekitar kali Brantas
  • Tahun 1824 Malang mempunyai Asisten Residen
  • Tahun 1882 rumah-rumah di bagian barat kota didirikan dan kota didirikan juga alun-alun.
  • 1 April 1914 Malang ditetapkan sebagai Kotapraja
  • 8 Maret 1942 Malang diduduki Jepang
  • 21 September 1945 Malang masuk wilayah Republik Indonesia
  • 22 Juli 1947 Malang diduduki Belanda
  • 2 Maret 1947 Pemerintah Republik Indonesia kembali memasuki Kota Malang.
  • 1 Januari 2001, menjadi Pemerintah Kota Malang.

Setelah Kerajaan Mataram Islam menguasai banyak wilayah pengikut agama Hindu dan Ciwa menyingkir di daerah Tengger yang kemudian keturunannya sekarang ini disebut sebagai masyarakat Tengger. Kedatangan bangsa Portugis, Belanda, Inggris menyebabkan kerajaan Mataram mengalami kemunduran yang kemudian seluruh nusantara menjadi jajahan Belanda.
Menurut buku yang berjudul “History of Java” karangan Gubernur Jenderal Raffles (1812), kota Malang merupakan daerah perkebunan miliki pemerintahan Belanda dibawah kabupaten Pasuruan. Setelah Pemerintah Belanda membangun rel kereta api, Malang menjadi berkembang pesat setelah dijadikan perkebunan tebu dan industri gula. Hingga saat ini 2 pabrik gula peninggalan pemerintah Belanda masih beroperasi dengan baik yaitu PG Kebon Agung dan PG Krebet Baru.
Sedangkan kawasan pemukiman orang-orang Belanda pada saat itu banyak berada di sekitar kawasan yang sekarang di sebut sebagai Jalan Ijen. Rumah-rumah di sepanjang Jalan Ijen dan sekitarnya yang sekarang masih berdiri dengan tegaknya merupakan bangunan-bangunan peninggalan zaman Belanda.

Bangunan-bangunan peninggalan masa penjajahan Belanda di Malang yang masih berdiri hingga sekarang di antaranya seperti :
Stasiun Kereta Api, Balai Kota Malang, SMA 1, SMA 3, SMA 4 (bekas markas militer, depan balai kota), Hotel Splendid, Masjid Jami’ (Alun-alun), Gereja Katedral (alun-alun), Gereja Ijen (Jalan Ijen), Bank Bukopin (Jalan Semeru), Bank Indonesia (Alun-alun), Rumah Sakit Dr. Soepraoen (Sukun), Toko OEN (Jalan Basuki Rahmat), PG Kebon Agung, PG Krebet Baru, Pasar Besar Malang (sudah berubah bentuk/renovasi).
Ngalam Bhumi Para AREMANIA
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar